
Terasing di tanah sendiri
Judul buku : Ekspedisi Tanah Papua
Penulis : kompas
Penerbit : kompas
Jenis buku : kumpulan jurnal
Orang kaya tidur di emperan toko, orang miskin tidur di rumah,
Harga BBM bisa mencapai diatas Rp. 30.000,- per liternya
Yang masih pakai koteka dilarang naik kendaraan umum
Situasi di atas merupakan sedikit dari fenomena yang dapat kita jumpai di tanah paling timur Indonesia, Papua. Tanah yang diberkahi oleh berbagai kekayaan alam yang tak terjangkau tangan penduduk aslinya. Bak membuka kotak Pandora, pertambangan yang dibuka di tanah Papua seperti memulai babak baru dari dark age bagi penduduk Papua. Tak bisa menikmati hasil kekayaan alam mereka sendiri, mereka justru melarat dan terbelakang di atas kekayaan mereka. Mereka justru terasaing di tanah sendiri. Pembangunan yang tidak tepat sasaran menjadikan mereka sebagai objek program pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan itu sendiri. Namun keterlambatan pembangunan ini tidak bisa dilimpahkan kepada pemerintah. Kultur budaya yang terdapat di Papua menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan. Bayangkan, di Papua seorang pendulang emas lepas bisa mengumpulkan uang 2 juta sampai 10 juta sehari, namun uang tersebut akan dihabiskan dalam semalam untuk senang-senang dan mabuk-mabukan.
Buku ini merupakan laporan perjalanan jurnalistik Kompas yang dilalukan di bulan Agustus 2007 selama tiga pekan yang melibatkan belasan wartawan dan fotografer. Buku ini membawa kita untuk melihat kembali ‘tanah air’ kita sendiri. Di sana sini kita menemukan kondisi yang kontras, teramat paradoks dalam realitanya.
